Jalan Setapak UNS kini lenyap


Jarang sekali kita melihat di UNS itu jalan setapak, terkecuali jalan yang ada di kiri kanan boulevard UNS itu. Terkadang jalan setapak yang ada digunakan tuk kepentingan pembangunan yang tak mengindahkan lingkungan sekitarnya. 2 tahun yang lalu saya masih naik bus tuk ke kampus. Fakultas yang saya tuju adalah FMIPA. Kalau dari rumah saya berangkat jam 07.00 nanti jam 07.15 saya sampai di depan boulevard UNS. Setelah itu saya jalan kaki tuk sampai di MIPA. Jalan utama yang biasa dilewati oleh sepeda motor adalah jalan yang berliku-liku dari rektorat, Fakultas Pertanian menuju MIPA. Seringnya saya lewat disana, suatu saat saya mencoba tuk lewat jalan pintas tuk menuju MIPA. Karena pada waktu itu kuliah pagi, waktunya terlalu mepet tuk lewat jalan utama, selain itu kebetulan bersama teman yang sama-sama terburu-buru juga. Jalan pintas yang kami ambil yaitu dari rektorat bagian kiri jalan lurus, nanti auditorium belok kiri, melewati depan gedung laboratorium pusat, lalu ada jalan setapak tuk menuju ke MIPA yang berada di kiri gedung MIPA, di bukit-bukitnya MIPA. Alternatif tuk jalan lebih cepat lagi tanpa lewat depan gedung lab pusat, tapi lewat jalan setapak yang lewat jalan hutan tersebut. Cukup cepat 1 menit lebih daripada lewat gedung lab pusat. Ngirit waktu niee ceritanya. Akhirnya saya sering lewat jalan tersebut dikarenakan bisa lihat-lihat pemandangan sambil terburu-buru masuk kuliah. Namun karena 1 tahun yang lalu, jalan setapak itu kini lenyaplah sudah dikarenakan pembangunan saluran air yang menghubungkan danau di fakultas pertanian dengan saluran aira dibawah Puskom. Namun sekarang lihatlah kalau kalian maen ke UNS dan lewat jalur kanan pastilah akan menemui saluran air yang tidak berguna sama sekali. Penuh dengan lumut dan tidak terawatt sama sekali, jadi sarang nyamuk tuch klo gi musim ujan tiba. Selain itu pula tanah yang di sekita pembangunan saluran air tersebut juga tidak dikembalikan seperti semula. Banyak gundukannya, penuh rerumputan, dan banyak nyamuk pula. Pokoknya nggak terawat sama sekali dech klo diliatin. Belum lama ini hal yang sama mungkin akan terjadi di fakultas saya. Sebelum mid semester kemaren sekitar bulan maret 2009, bukit yang ada di kiri MIPA digusur dan dijadikan gedung. Padahal itu adalah salah satu asset MIPA yang berharga. Tanpa adanya bukit tersebut MIPA akan terasa gersang, panas, dan tak ada tempat berteduh saat matahari menyengat. Bahkan jalan setapak yang menuju MIPApun kini lenyap. Jadi mahasiswa yang jalan kaki ke MIPA akan semakin jauh lagi karena akan memutar. Apakah ini yang namanya keadilan??. Tidak merasakah orang-orang yang lebih tinggi daripada mahasiswa, kasihan mereka harus berjalan, mencari ilmu saja dipersulit demi ego orang gedean disana. Lihatlah MIPA sekarang, gersang sekali, dan tak ada tempat kongkow-kongkow klo kuliah yang kosong. Paru-paru MIPA kini lenyap dan tak kan terganti oleh apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s