All About Manusia


Manusia dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal tanah di bumi. Dari bumi asal kejadiannya, di bumi dia berjalan, dari bumi dia makan dan ke dalam bumi dia kembali. Dari tanah, kembali menjadi tanah.

Manusia dalam pandangan mereka, tidak lebih dari kumpulan daging, darah, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran, dinggapnya barang benda, yang dihasilkan oleh otak. Pandangan mereka hanya sampai benda, dan hanya mempercayai adanya benda-benda yang dapat diraba. Maka oleh karena itu dalam anggapan mereka, tidak ada keistimewaan manusia dibanding makhluk yang lain yang hidup di muka bumi ini, bahkan dimasukkannya ke dalam bangsa kera yang setelah melalui masa panjang, berubah menjadi manusia sebagai kita lihat sekarang ini. Inilah teori evolusi atau teori desedensi, bahwa hayat berasal dari makhluk satu sel. Dia berevolusi kedua arah yaitu binatang dan tanaman.

Evolusi itu berlangsung setingkat demi setingkat membentuk sejuta jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman. Binatang satu sel sebagai awal evolusi dan manusia akhir (sementara) evolusi.

Pandangan ini menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan-hewan, yang hidupnya hanya untuk memenuhi keprluan dan kepuasan kebendaan semata. Pandangan hidup semacam ini adalah kesesatan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Jatsiyah surat ke 45 ayat 24 yang berbunyi : “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.”

Dalam pandangan orang yang beriman, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat sisi Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang amat baik. Sesudah ditiupkan Roh ke dalam tubuhnya, para malaikat disuruh sujud (memberi hormat) kepadanya. Tuhan memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, dijadikan khalifah (penguasa) di bumi dan menjadi pusat kegiatan di alam ini. Segala apa yang di langit dan di bumi, semuanya bekerja untuk kepentingan manusia, dan kepadanya diberikan hikmat lahir dan batin.

Kesimpulannya, apa yang ada di alam ini adalah berkhidmat kepada manusia, dan Tuhan menciptakan manusia untuk berkhidmat kepada Tuhan, sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah surat ke 2 ayat 29 yang berbunyi : “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu dan kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia mnyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” dan di dalam surat Adz-Dzaariyat surat ke 51 ayat ke 56 yang berbunyi : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”

Selanjutnya pembahasan tentang manusia akan ditinjau dari beberapa aspek :

  1. Manusia makhluk berakal

Dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak ternilai harganya, sebagai anugerah Tuhan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, yaitu “akal”. Sekiranya manusia tidak diberikan akal, niscaya keadaan dan perbuatannya akan sama saja dengan hewan.

Dengan adanya kal, segala anggota manusia, gerak, dan diamnya, semuanya berarti dan berharga. Akal itu dapat digunakan untuk berpikir dan memperhatikan segala benda dan barang yang ada di alam ini, sehingga benda-benda dan barang-barang yang halus serta tersembunyi, dapat dipikirkan guna dan manfaatnya, sehingga apabila akal digunakan dengan semestinya, niscaya tidak ada benda atau barang-barang di dunia ini yang sia-sia bagi manusia.

Mengenai pemberian akal terhadap manusia, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat An Nahl surat ke 16 ayat ke 78 yang berbunyi : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

Oleh karena itlah, sering benar Allah menyuruh manusia untuk berpikir atau menggunakan akal. Seandainya akal tidak berfungsi yaitu berpikir, niscaya mudah rusak dan tidak ada manfaatnya bagi manusia.

  1. Timbulnya ilmu pengetahuan

Timbulnya ilmu pengetahuan, disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan hidup berbahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi Qudrat dan Iradat Tuhan bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh berpikir diantaranya terdapat dalam surat Yunus surat ke 10 ayat ke 101 yang berbunyi : “Katakanlah, “ Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” dan di surat Ar-Ruum surat ke 30 ayat ke 8 yang berbunyi : “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.”

Hasil dari pemikiran manusia itu, maka lahirlah beberapa ilmu pengetahuan seperti : ilmu pertanian, perikanan, humaniora, kesehatan, ilmu hokum social, ilmu bahasa, ilmu pasti alam dan teknologi (ipatek) dan lain sebagainya.

Ilmu pengetahuan itu bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan penunjuj jalan yang membimbing ke arah keimanan. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.

Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut : “Pengetahuan itu berlawanan dengan khufarat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadat secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki dan kita pelajari dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong berkerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama yaitu Allah.”

“Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air. Lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oxygen dan hydrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu dia akan meyakini kebesaran Pencipata, kekuasaan dan kebijaksanaanNya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air.”

Ilmu pengetahuan yang dilimpahkan kepada manusia, yang kebanyakan manusia menganggap banyak ilmu yang dimilikinya sehingga dalam hidupnya menjadi sombong, adalah sangat sedikit menurut pandangan Allah. Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Israa’ surat ke 17 ayat 85 yang berbunyi : “Dan mereka bertanya kepadamu(Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan TuhanKu, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””

  1. Hak dan kewajiban manusia

Hak, adalah suatu tuntutan yang sah yang sesuai dengan kewajiban dalam hukum Islam. Sedangkan Wajib, adalah  pekerjaan yang akan mendapat pahala apabila dikerjakan, dan akan mendapatkan sanksi hokum apabila ditinggalkan.

Hukum Islam member empat macam hak asasi manusia, yaitu :

a)       Hak Tuhan;

b)       Hak diri sendiri;

c)       Hak terhadap orang lain;

d)       Hak atas harta yang diberikan Tuhan guna kepentingannya, dan ia diberi kuasa untuk menggunakannya bagi keperluan hidupnya.

Kewajiban manusia untuk mengerti semuanya itu dan memberikan haknya. Masing-masing hak, ada sangkut pautnya dengan hak seseorang itu, dan menerangkan bahwa semua hak itu harus diberikan pada waktu yang sama dan tidak boleh diperkosa.

  1. Hak Tuhan, yang pertama dan yang penting ialah mengimaninya dan tidak mensyarikatkannya.

Kedua, ialah kita harus menerima petunjukNya.

Ketiga, kita harus mentaatiNya dan dinyatakan dengan ketundukan kepada hukumNya.

Keempat, kita harus menyembahNya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyat surat ke 51 ayat 56 yang berbunyi : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”

  1. Hak terhadap diri sendiri, ialah hak pribadi seseorang yaitu hak jasmani dan rohaninya. Kelemahan manusia yang terbesar ialah apabila keinginannya telah melampaui batas, ia pasti akan menjadi budaknya demi memuaskan hawa nafsunya, sadar atau tidak, ia akan ditimpa bahaya besar. Misalnya seorang pemabuk akan menderita kerugian besar, di antaranya kesehatannya terganggu, uangnya habis, namanya jatuh, dan banyak lagi.

Syariat Islam bertujuan untuk kebahagiaan manusia, karena ia menasehati manusia akan haknya. Ia selamatkan manusia dari segala macam bahaya seperti minuman yang memabukkan, makan daging babi, makan binatang terkaman, barang beracun, dan binatang yang kotor, bangkai, dan lain-lain, karena semua benda-benda tersebut mempengaruhi manusia dari hal-hal yang merusak kesehatan, merusakkan moral, fikiran, dan rohaninya.

Syariat menyuruh makan makanan yang bersih, melarang bepergian tidak berpakaian, menasihatkan berusaha mencari karunia Allah (rezeki), sehingga dijadikannya langit dan bumi serta isinya, demi untuk kepentingan kebahagiaan hidup manusia.

Syariat mewajibkan dan memerintahkan menguasai, mengatur, memiliki, kawin untuk kehormatan dirinya. Melarang memperkosa diri, menyuruh mendekatkan diri kepada Tuhan dengen tidak menjauhi urusan dunia. Hiduplah seperti orang lain di dunia, ingat dan taqwa kepada Tuhan dengan mengikuti ajaranNya yang telah disampaikan oleh RasulNya.

Ia tidak mengizinkan bunuh diri, dan sesungguhnya manusia hidup adalah untuk Allah.

  1. Hak terhadap orang lain, ialah hokum agama yang memerintahkan agar manusia memenuhi keinginan pribadinya dengan tidak melampaui batas, dan jangan sampai merusak hak orang lain.

Ia melarang manusia berbuat dusta, sebab orang yang berdusta adalah membohongi diri sendiri. Menipu orang adalah suatu kesalahan, tetapi menipu diri sendiri adalah seribu kesalahan. Dengan berdusta, manusia akan ditimpa bahaya, sebab dusta adalah sumber bahaya bagi orang lain.

Ia melarang mencuri, merampas, menyogok, menipu, khianat, mengijon, dan riba, karena rezeki yang diperoleh dengan jalan tersebut akan merugikan orang lain. Bergunjing, memfitnah, menyebarkan berita bohong, juga dilarang. Dilarangnya berjudi, lotre, mengadakan spekulasi dan semua permainan yang berdasarkan untung-untungan, karena cara ini tidak akan menguntungkan, tetapi merugikan harta orang lain.

  1. Hak atas harta yang diberikan Tuhan untuk kepentingan dirinya, ialah memelihara dan memanfaatkannya di jalan Allah, demi mengharap RidhoNya.
  2. Manusia sebagai khalifah di atas bumi

Tidak diragukan lagi bahwa manusia dijadikan khalifah di atas bumi. Khalifah di sini maksudnya menjadi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan segala isinya.

Maka di tangan manusialah terletak kemakmuran dunia dan ketenteramannya. Tetapi disebabkan oleh ulah perbuatan manusia juga, dunia ini menjadi kacau balau, tidak ada kemakmuran, berbunuh-bunuhan di antara sesamanya, karena mereka mengabaikan segala amanat Allah itu.

Sebagai pedoman hidup manusia dalam mengelola dan melaksanakan tugas itu, Allah menurunkan agamaNya. Dengan petunjuk agama manusia dapat menjalankan tugasnya, sebab agama menjelaskan dua jalan yaitu jalan yang bahagia dan jalan yang akan membahayakannya. Jalan yang pertama disuruh melakukannya, sedang jalan yang kedua disuruh menyingkirkannya. Mengenai manusia dijadikan khalifah di atas bumi, dinyatakan dalam Al-Qur’an di surat Al-Baqarah surat ke 2 ayat 30 yang berbunyi : “Dan (ingatlah) ketika Tuhamnu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””

Kemudian ditegaskan di surat Al-An’am surat ke 6 ayat 165 yang berbunyi : “Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk memujimu atas (karunia) yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat member hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Perbedaan tingkat yang diadakan oleh Tuhan di dalam masyarakat manusia, bukanlah suatu kesempatan bagi si kuat untuk menganiaya si lemah atau si kaya tidak memperdulikan si miskin, melainkan suatu penyusunan masyarakat kea rah kebaikan hidup bersama melalui tolong-menolong.

2 thoughts on “All About Manusia

  1. manusia adalah makhluk terbaik. tapi pada saat ia tidak bisa mengendalikan dirinya dan berpaling dari rahmat ALLAH, ia tidak lebih baik dari binatang.

    triam kasih nasehatnya, sangat bermanfaat

    Like

    • padahal artikelnya belum lengkap aku posting…aq lengkapin lagi de dan mohon maaf ayat-ayat Al-Qur’annya ga dipostingkan cuma artinya aja…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s