Sinopsis Dream High Episdode 13


Sam Dong menatap pemain piano, mengira-ngira kapan ia harus mulai bernyanyi.

“Satu.. Dua… Tiga.. Empat…” pikir Sam Dong dalam hati.

Dengan ragu, Sam Dong mengangkat micnya untuk mulai bernyanyi.

Nyanyian Sam Dong tidak seiring dengan iringan piano. Pitchnya tidak sesuai. Penonton mulai ribut lagi.

Hye Mi kelihatan cemas bukan main.

 

Karena tahu nyanyiannya tidak sesuai, Sam Dong terdiam. Ia menurunkan micnya dan berbalik, ingin mundur dari panggung.

Hye Mi bangkit dari duduknya dan menuju lantai atas.

 

 

Sam Dong menoleh melihat Hye Mi. Hye Mi memberikan aba-aba pada Sam Dong.

“Penampilanmu tidak akan berantakan.” janji Hye Mi. “Aku tidak akan membiarkannya. Jika kau salah, aku yang akan mengoreksinya.”

Hye Mi rupanya sudah membicarakan mengenai aba-aba yang akan diberikannya pada Sam Dong.

Dengan aba-aba itu, Sam Dong mulai bernyanyi kembali.

 

Sam Dong bernyanyi dengan indah.

Hye Mi dan Sam Dong menangis. P juga nangis… Mengharukan banget…

 

 

Penampilan Sam Dong sukses. Para penonton ramai bertepuk tangan.

Ini artinya, panggung telah memilih Sam Dong…

 

 

Oh Hyuk dan Hye Mi datang menemui dokter untuk bertanya mengenai perawatan Sam Dong. Dokter mengatakan agar pola makan Sam Dong dijaga. Hye Mi menulis semuanya yang dikatakan dokter.

Dokter juga mengatakan bahwa penyebab berkurangnya pendengaran Sam Dong bukan disebabkan oleh luka akibat kejatuhan pot. Ada penyebab lain.

Sepulang dari rumah sakit, Hye Mi masuk ke toko alat musik

 

 

Jin Kuk terpilih menjadi personil K yang akan membuat album solo. Ayah Jin Kuk bahkan mengirimkan buket bunga untuknya. Jin Kuk sangat senang.

 

 

Hye Mi memberikan garpu tala untuk Sam Dong.

“Ini nada A.” kata Hye Mi seraya membunyikan garpu tala. “Kupikir, mungkin akan membantu jika kau merasa nyaman dengan suara-suara ini.”

Hye Mi mulai membacakan apa-apa saja yang harus dilakukan Sam Dong untuk pengobatan. Apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Sam Dong.

 

 

Sam Dong menggenggam erat garpu tala yang diberikan Hye Mi, kemudian menyentuh pundak Hye Mi. “Aku takut kau akan salah paham.” katanya. “Dokter sudah mengatakan bahwa penyakit ini bukan disebabkan lukaku saat itu. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah.”

“Sekarang itu tidak penting lagi.” kata Hye Mi dengan mata berkaca-kaca. “Apapun yang terjadi, aku akan membantumu. Jadi jangan katakan apapun dan dengarkan aku.”

Hye Mi mulai membacakan kembali catatannya.

 

 

“Aku ingin bertanya padamu.” kata Sam Dong, tidak memedulikan catatan Hye Mi. Ia maju mendekati Hye Mi. “Aku sudah mengatakan kalau penyakitku bukan karena peristiwa itu. Kenapa kau masih bersikap baik padaku? Apa kau menyukaiku?”

“Apa?”

“Atau karena aku terlihat menyedihkan?” tanya Sam Dong lagi. “Apapun alasanmu, tolong berhenti bersikap seperti ini. Jangan membuatku bingung. Itu akan lebih membantu dibandingkan sikapmu saat ini.”

 

 

Sam Dong beranjak pergi.

“Karenamu, aku akan memulai lagi musikku. Dan satu lagi.” kata Sam Dong. “Saat itu, ketika kau menangis karenaku, aku sungguh minta maaf.”

Hye Mi menangis.

 

 

Murid-murid Kirin belajar musik dengan Kyung Jin.

Ketika Kyung Jin menanyakan sebuah not, Pil Sook bisa menjawab dengan sempurna. Kyung Jin kelihatan senang sekali.

“Kalian lihat, kalian lihat!” seru Kyung Jin bersemangat seraya menunjuk Pil Sook. “Ini dinamakan ‘Pitch Sempurna’! Itu adalah anugerah Tuhan!”

Sam Dong menatap Pil Sook dengan pandangan khusus.

Jason menatap Pil Sook dan tersenyum kagum.

“Itu tidak masuk akal.” kata Hye Mi tanpa ekspresi.

 

 

Kyung Jin mulai menjelaskan pada murid-murid mengenai pitch. Ada pitch sempurna dan pitch relatif.

“Bagaimana cara mempelajari pitch?” tanya Sam Dong.

“Tidak ada caranya.” jawab Kyung Jin. “Kau harus terlahir dengan kemampuan spesial.”

Hye Mi menatap Sam Dong.

 

 

Setelah kelas berakhir, Sam Dong menemui Pil Sook dan memintanya menemuinya di ruang kelas mereka yang lama.

Pil Sook setuju.

Dengan tampang menyeramkan, Jason bertanya pada Sam Dong. “Kenapa kau ingin ke kelas itu?” tanyanya.

“Kau tidak perlu tahu.” jawab Sam Dong singkat seraya berjalan pergi.

Jason kelihatan cemburu.

Hye Mi menarik lengan Sam Dong. “Kau tidak makan siang?”

“Makanlah duluan.” kata Sam Dong. “Aku ada janji dengan seseorang.”

 

 

Di kantin, murid-murid Kirin menjauhi Baek Hee karena melakukan kecurangan dengan meniru karya orang. Ah Jeong membicarakan kejelekan Baek Hee itu dengan teman-temannya.

Mendadak Hye Mi datang dan duduk di dekat Baek Hee. Ia mengenakan earphone setengah dan setengahnya lagi diselipkannya di telinga Baek Hee.

Baek Hee terkejut. “Apa ini?” tanyanya. “Tidak ada suara apapun.”

“Jangan tanya dan pakai saja.” jawab Hye Mi singkat.

Baek Hee mengenakan earphone itu. “Ini bukan akhir hidupku.” katanya.

“Aku tahu.” ujar Hye Mi.

“Aku tidak akan menyerah.” kata Baek Hee lagi, hampir menangis.

“Aku tahu.”

 

 

Baek Hee duduk di depan cermin, teringat penampilan terakhirnya yang berantakan.

Beberapa saat kemudian Kyung Jin datang.

“Aku tahu kenapa penampilanku kemarin berantakan.” kata Baek Hee. “Seperti yang kau katakan, jika aku terus melanggar aturan, aku tidak akan mampu berdiri. Karena itulah aku ingin meminta satu kesempatanlagi pada Direktur. Jika ia bersedia, aku tidak akan pernah lagi melanggar aturan dan bekerja keras semampuku.”

“Bagaimana kalau ia tidak bersedia?” tanya Kyung Jin.

“Aku akan memulai lagi dari awal.” jawab Baek Hee. “Jika memulai dari awal, aku tidak melanggar aturan. Tapi jalannya akan sangat panjang dan sulit, bukan?”

Kyung Jin mengangguk.

“Jika saatnya tiba, maukan kau membantuku?” tanya Baek Hee.

Kyung Jin terlihat terharu mendengar pernyataan Baek Hee. “Tentu saja.” jawabnya.

 

 

Sam Dong berlatih pitch seorang diri. Namun sangat sulit.

“Tidak akan mudah mendapat pitch yang sempurna hanya dengan berlatih.” kata Oh Hyuk, masuk ke ruangan mendekati Sam Dong.

“Aku tahu.” jawab Sam Dong. “Tapi aku tetap ingin menemukan caranya. Jika aku bisa menguasai pitch sempurna, desing di telingaku tidak akan sanggup menghentikanku menyanyi di panggung.”

 

 

Oh Hyuk berusaha meyakinkan Sam Dong agar Sam Dong beristirahat yang cukup dan melakukan pengobatan agar penyakitnya sembuh. “Jika kau meninggalkan panggung dan fokus menciptakan lagu, masalah pendengaranmu tidak akan menjadi masalah lagi. Dengan begitu kau tidak perlu mempelajari pitch sempurna lagi.”

Sam Dong sedih mendengar pernyataan Oh Hyuk. “Aku tidak mau.” katanya tegas. “Aku tidak akan meninggalkan panggung. Aku akan melenyapkan kelemahanku.”

 

 

Jason mendengarkan lagu di perpustakaan dan ngedumel sendiri mengenai pertemuan Pil Sook dan Sam Dong. Ia tidak sadar bahwa banyak murid yang sudah mengantri di belakangnya.

Murid-murid yang mengantri sangat kesal pada Jason.

Jason dilema. Di satu sisi, ia ingin tahu apa yang dilakukan Pil Sook dan Sam Dong. Di sisi lain, ia merasa malu.

Setelah bingung antara kedua pilihan itu, Jason akhirnya memutuskan untuk pergi mengintip.

 

 

Sam Dong meminta Pil Sook mengajarinya pitch.

Hye Mi mengintip mereka dari jendela. Tidak sengaja ia bertemu dengan Jason, yang juga ingin mengintip.

 

 

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hye Mi.

“Aku ingin ke perpustakaan, tapi tersesat.” jawab Jason berbohong.

Hye Mi tersenyum bandel. “Aku juga mau ke perpustakaan.” katanya. “Aku pergi bersama.”

“Apa?!” seru Jason.

Hye Mi menarik tangan Jason. “Ayo!” ajaknya.

Dengan berat hati, Jason terpaksa ikut Hye Mi.

 

 

White Entertainment yang dimiliki Doo Shik akan menarik Pil Sook dan Hye Mi sebagai bintang mereka.

Bum Soo dan Saeng Hee malah menjelek-jelekkan Pil Sook dan Hye Mi agar Doo Shik tidak jadi merekrut mereka.

Doo Shik terdiam. Ia membayangkan apa yang terjadi jika ia merektur Pil Sook dan Hye Mi.

 

 

Jika Pil Sook dan Hye Mi diwawancarai oleh sebuah studio, pasti akan sangat kacau.

Seorang penelepon mengatakan bahwa Pil Sook berhasil menurunkan berat badan dengan sedot lemak.

Pil Sook menangis sedih mendengar ucapan di penelepon.

Hye Mi marah-marah. “Aku tahu siapa kau!” serunya. “Kau Ri Ah, bukan?! Jika kau ingin mencari gara-gara dengan Pil Sook, datang saja kemari! Kenapa harus dengan cara licik seperti ini?! Dia tidak melakukan sedot lemak! Apa kau mau mati!”

 

 

Doo Shik akhirnya mengurungkan niatnya untuk merekrut Pil Sook dan Hye Mi.

“Aku sangat kecewa.” kata Oh Hyuk. “Kupikir kau berbeda dengan perusahaan lain yang hanya memandang dari segi keuntungan finansial belaka, melainkan bertujuan menciptakan artis dan menbgambil keuntungan dari sana.”

“Aku juga melihat Presiden Ma seperti itu!” seru Jin Man, setuju dengan Oh Hyuk.

“Kuharap tujuanmu melakukan ini bukan demi uang.” kata Oh Hyuk.

“Jika kau melakukannya demi uang, aku akan sangat kecewa!” seru Jin Man.

Doo Shik menjadi tidak enak. “Ten… tentu sa.. saja tidak.” jawabnya.

“Kalau begitu, itulah jawabanmu.” kata Oh Hyuk.

“Apa?!” seru Doo Shik.

Secara halus, Oh Hyuk memaksa Doo Shik merekrut Pil Sook dan Hye Mi.

“Tolong lakukan persiapan debut.” kata Oh Hyuk.

“Baiklah.” kata Doo Shik. “Tidakkah kita harus memilih pemuda desa itu juga?”

“Dia demam panggung!” seru Jin Man. “Ia punya pitch relatif yang bagus. Tapi jika sudah di panggung, semuanya akan rusak!”

“Apa?!” seru Oh Hyuk. “Ia punya pitch relatif?! Terima kasih banyak, Jin Man!”

Oh Hyuk bergegas berlari pergi.

 

 

Oh Hyuk menyuruh Sam Dong fokus pada not A dari garpu tala.

“Fokus saja pada suara not ini.” kata Oh Hyuk. “Selama kau ingat not ini, kau akan mengingat semua nada.”

“Apa maksudmu?” tanya Sam Dong bingung.

“Jika kau memiliki pitch relatif, kau akan mengerti mengenai perbedaan not.” kata Oh Hyuk menjelaskan. “Pertama, gunakan not ini sebagai dasar. Seperti benih. Lalu biarkan not-not musik lain tumbuh seberti ranting pohon. kau mengerti?”

Sam Dong tersenyum. “Aku mengerti.” katanya.

 

 

Jin Kuk menemui ayahnya untuk berterima kasih pada buket bunga yang dikirimkan ayahnya.

“Apa kau mengirimkan itu tanpa sepengetahuanku?” tanya Moo Jin, berpura-pura.

“Bukankah Presiden yang memintaku mengirim buket itu?” tanya Sekretaris Kim.

“Ehem.” Moo Jin menyuruh Sekretaris Kim diam.

Jin Kuk tersenyum. “Ayah, aku akan berusaha keras.” katanya. “Aku tidak akan mengecewakanmu.”

Di tangan ayahnya, Jin Kuk melihat jam tangan pemberiannya dikenakan.

Sungguh hari yang membahagiakan untuk Jin Kuk.

 

 

Jin Kuk menelepon Hye Mi dan mengajaknya bertemu.

Hye Mi mengucapkan selamat pada Jin Kuk, namun dengan ekspresi wajah cemberut. Setelah Jin Kuk bercerita bahwa ayahnya mengirimkan buket bunga, Hye Mi baru bisa tersenyum senang dan mengucapkan selamat lagi.

Jin Kuk mencubit pipi Hye Mi. “Sakit tidak? Ini bukan mimpi kan?”

Hye Mi balas mencubit pipi Jin Kuk.

 

 

Tidak lama kemudian Sam Dong datang.

“Sam Dong.” sapa Jin Kuk.

Hye Mi langsung melepas tangannya dari pipi Jin Kuk, seakan takut ketahuan Sam Dong. Jin Kuk terlihat bingung. Kenapa tiba-tiba Hye Mi peduli pada perasaan Sam Dong?

Sam Dong mengucapkan selamat pada Jin Kuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jin Kuk. “Aku mendengar mengenai demam panggungmu.”

Sam Dong melirik Hye Mi. “Ya, aku tidak apa-apa.” katanya. “Jangan pedulikan aku. Aku akan masuk ke rumah.”

Seseorang menelepon Jin Kuk dan mengatakan padanya bahwa Presiden akan menggunakan hubungan Jin Kuk dengan Moo Jin untuk mendongkrak popularitas. Jin Kuk bergegas pergi untuk bicara dengan Presiden.

 

 

Oh Sun membangunkan Oh Hyuk dan mengatakan bahwa Jin Kuk terlibat perkelahian.

Para wartawan meliput kejadian itu. Oh Hyuk bergegas ke kantor polisi dan membebaskan Jin Kuk.

 

 

Oh Hyuk membawa Jin Kuk ke ruang bawah tanah tempat latihan mereka dulu. Jin Kuk menolak menceritakan apa yang terjadi pada Oh Hyuk.

Jin Kuk hanya terlihat sedih. “Mulai dari awal lagi.” gumamnya.

 

 

Hye Mi dan Sam Dong menonton televisi. Disana diberitakan Jin Kuk berkelahi dengan Direktur perusahaan entertainment Top.

Masalah perkelahian Jin Kuk itu otomatis berdampak pada Moo Jin. Moo Jin marah besar.

Gosip-gosip miring lain mulai beredar. In Sung, Jason dan Baek Hee sangat tidak senang mendengarnya.

 

 

Setelah keadaan tenang, Oh Hyuk mengajak Jin Kuk pulang.

Disana, Hye Mi dan Sam Dong sedang sibuk melepas poster-poster yang menjelek-jelekkan Jin Kuk.

Jin Kuk terlihat sangat sedih.

 

 

Moo Jin datang ke rumah Oh Hyuk untuk bicara dengan Jin Kuk.

“Aku sendiri yang akan menemui Direktur Yoon.” kata Moo Jin. “Namun sebelumnya, aku ingin mendengar apa yang ingin kau katakan. Aku tahu kau bukan tipe orang yang akan memukul orang lain tanpa alasan yang jelas. Apa yang dilakukan Direktur Yoon padamu?”

“Tidak ada.” jawab Jin Kuk. “Akulah yang terlalu gegabah.”

“Katakan apa yang kau sembunyikan dariku!” ujar Moo Jin. “Jika kau terus seperti ini, kita akan kehilangan segalanya.”

Jin Kuk menangis. “Maafkan aku.” katanya. “Aku telah menyebabkan banyak masalah untukmu. Maafkan aku.”

“Hanya sebatas inikah impianmu?” tanya Moo Jin.

Jin Kuk berlutut di hadapan ayahnya. “Maafkan aku, Ayah.” tangisnya. “Sungguh, maafkanlah aku.”

 

 

Baek Hee datang ke toko ibunya. Disana, ibunya sedang membuka hadiah yang diberikan Direktur, yakni makanan seafood mahal.

Baek Hee menangis. “Kita harus mengembalikan ini.” katanya cepat.

“Kenapa kita harus mengembalikan hadiah mahal ini?” larang ibu Baek Hee.

“Ibu!” seru Baek Hee, menangis. “Kumohon padamu agar tidak menerima ini. Tolong kembalikan.”

 

 

Jin Kuk berbaring muram di ranjangnya. Sam Dong berusaha bicara dan mengganggunya tapi Jin Kuk tidak bereaksi.

“Ini tidak menyenangkan.” ujar Sam Dong. “Jika kau terus begini, maka permainan akan tamat.”

Jin Kuk menoleh memandang Sam Dong dengan kesal.

“Kau pikir hidupmu sudah berakhir?” tanya Sam Dong tenang. “Kau berpikir bahwa di dunia ini hanya kau yang mengalami rasa sakit dan penderitaan?”

“Diam.” kata Jin Kuk. “Biarkan aku beristirahat.”

“Aku kita lihat, hidup siapa yang lebih buruk.” Sam Dong terus mengoceh.

 

 

Jin Kuk menutupi kepalanya dengan selimut.

“Kau pernah mengatakan bahwa kau tidak punya ibu.” kata Sam Dong, tidak mengacuhkan sikap Jin Kuk. “Aku tidak punya ayah. Kelihatannya kita seri, bukan?”

Jin Kuk kehilangan kesabaran. “Diam kataku!” serunya.

“Kau susah memulai debut sebagai penyanyi dan menjadi nomor satu.” ujar Sam Dong. “Tapi aku belum memulai debutku. Apa kau merasakan sakitku? Ketidakadilan ini?”

 

 

Jin Kuk bangkit dari duduknya dan berjalan pergi, namun Sam Dong menarik lengannya.

“Dengarkan aku selesai bicara!” kata Sam Dong. “Dengan memukul seseorang, kau menjadi seorang penjahat. Musuh nomor 2 publik.”

Jin Kuk menarik kerah Sam Dong dengan marah. “Kubilang berhenti!” katanya tajam.

“Kenapa? Kau merasa dirimu lebih menderita dibanding aku?” tanya Sam Dong. “Aku masih punya satu kartu AS. Pendengaranku rusak.”

“Apa?” Jin Kuk terkejut.

“Ketika aku mengalami gejala berdesing di telingaku, aku tidak bisa mendengar apapun.” kata Sam Dong. “Aku tuli. Saat berada di panggung, aku tidak demam panggung.”

 

 

Jin Kuk melepaskan kerah Sam Dong.

“Aku juga memiliki masalah sepertimu.” kata Sam Dong. “Kita berdua menderita. Tapi aku berjuang dan melawan sekuat tenaga. Walaupun aku tidak memiliki pitch sempurna, aku berusaha mempelajarinya dan tetap ingin bernyanyi. Kau tahu kenapa? Karena aku harus mengalahkanmu. Aku akan menjadi seseorang yang tidak dikasihani orang lain. Aku akan menjadi seseorang yang mampu bertarung satu lawan satu untuk memperoleh hadiah utama.”

“Kau bicara mengenai Hye Mi?” tanya Jin Kuk.

“Anak pintar.” kata Sam Dong. “Karena itu, hadapi ketakutanmu dan keluar dari kegelapan. Aku tidak akan menunggu lama.”

 

 

Jin Kuk terbangun keesokkan harinya dan menemukan catatan dari Sam Dong. Sam Dong memintanya datang ke kelas musik.

 

Di kantin, Pil Sook tidak sengaja mendengar Jason sedang bicara mesra dengan seorang gadis bernama Julie di telepon.

Setelah Jason selesai menelepon dan menyapanya, Pil Sook bersikap dingin.

“Kau seharusnya tidak bertemu dengan pria sendirian.” kata Jason, membicarakan Pil Sook dan Sam Dong. “Aku tidak akan salah paham. Tapi orang lain bisa saja menyebarkan desas-desus miring mengenai kalian.”

Pil Sook terlihat sangat kesal. “Kalau begitu seharusnya kau lebih memperhatikan obrolanmu dengan Julie.” katanya membalas. “Seharusnya kau tidak mengatakan sesuatu seperti ‘I miss you’ dan ‘I love you’ di telepon. Orang lain mudah saja salah paham jika mendengar ucapanmu itu. Tentu saja aku tidak akan salah paham.”

 

 

“Kenapa?” tanya Jason. “Kau memberi nasehat atau merasa cemburu?”

“Lalu kau?’ Pil Sook bertanya balik. “Kau memberi nasehat atau merasa cemburu?”

“Aku bertanya duluan, jadi kau yang harus menjawab duluan.” kata Jason.

“Tidak!” seru Pil Sook. “Kau jawab duluan!”

Agar adil, Jason mengusulkan mereka menjawab bersamaan dalam hitungan ketiga.

“1… 2… 3…” ujar Jason memberi aba-aba, tapi ia ataupun Pil Sook tidak mengeluarkan jawab apapun.

 

 

Jason kesal dan bangkit dari duduknya. Sepertinya ia berjalan pergi, tapi malah berpindah duduk di samping Pil Sook.

“Baik.” kata Jason, mengalah. “Aku cemburu. Kau?”

“Aku juga.” jawab Pil Sook. “Aku cemburu.”

Pil Sook tersenyum malu-malu, demikian halnya Jason.

Pil Sook lalu menyodorkan rotinya ke mulur Jason. Jason memakan roti itu.

 

 

Ketika sedang berjalan menuju kelas, Hye Mi secara tiba-tiba menarik Sam Dong.

“Sam Dong, apa kau baik-baik saja?” tanya Hye Mi cemas. “Kau bisa mendengar?”

Sam Dong tersenyum. “Aku baik-baik saja.” jawabnya. “Ada apa?”

“Hari ini adalah tes pitch.” kata Hye Mi. “Jika kau tidak bisa mendengar, lihat aku. Kau masih ingat isyaratku, kan?”

Sam Dong meraih tangan Hye Mi. “Tidak apa-apa.” ujarnya menenangkan. “Itu tidak perlu.”

 

 

“Mana mungkin tidak perlu?” bantah Hye Mi. “Bagaimana jika orang lain tahu mengenai keadaanmu?”

“Jangan menatapku seperti itu.” kata Sam Dong. “Kau bukan kakak ataupun ibuku. Kau tidak bisa membantuku selamanya. Aku akan menunjukkan padamu. Aku akan membuatmu kagum sehingga kau tidak akan perlu mengkhawatirkanku lagi. Aku akan membuatmu terpikat.”

Sam Dong tersenyum pada Hye Mi.

Hye Mi menatap Sam Dong dengan pandangan khusus. Mungkin karena melihat kepercayaan diri Sam Dong. “Y… ya.” jawabnya terbata.

 

 

Ketika hendak mengambil sheet lagu untuk tes menyanyi, entah sengaja atau tidak, tangan Jason menyentuh tangan Pil Sook. Mereka langsung salah tingkah dan gugup.

 

 

Murid-murid akan menyanyi berpasangan sesuai dengan sheet yang mereka ambil.

 

 

Jason berharap ia berpasangan dengan Pil Sook. Namun sayang sekali tidak. Jason harus menyanyi berpasangan dengan Hye Mi.

Hye Mi dan Jason sama-sama kelihatan tidak senang karena harus berpasangan.

Sebelum menyanyi, mereka dibantu dengan suara nada piano.

Hasil tes menyanyi Jason dan Hye Mi cukup baik. Ada beberapa pitch yang tidak sampai dan kesalahan tempo.

 

 

Disaat yang sama, Jin Kuk datang ke sekolah. Semua murid memandangnya dengan pandangan aneh.

Baek Hee lengsung bersembunyi begitu melihat Jin Kuk. Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua.

Jin Kuk datang untuk melihat ujian pitch.

 

Sam Dong dan Pil Sook menyanyi berpasangan.

Ketika Kyung Jin meminta pianis memainkan piano untuk nada awal mereka, Sam Dong langsung menghalangi.

“Pil Sook punya pitch sempurna.” kata Sam Dong. “Jadi, walaupun piano tidak dimainkan, ia masih bisa menemukan pitchnya.”

“Tapi sepertinya akan sulit untukmu.” kata Kyung Jin.

“Aku juga akan mencoba menemukan pitchnya.” kata Sam Dong percaya diri.

“Baiklah.” jawab Kyung Jin. ‘Tapi setelah ini berakhir, jangan protes mengenai nilaimu.”

“Tentu saja tidak.” kata Sam Dong.

Hye Mi, Jin Man, dan Oh Hyuk tidak habis pikir dengan keputusan Sam Dong itu.

 

 

Sam Dong dan Pil Sook mulai menyanyi. Makin lama, suara Kim Soo Hyun (Sam Dong) terdengar semakin matang dan indah. Walaupun dia bukan penyanyi.

Kyung Jin dan Hye Mi terpana pada nyanyian Sam Dong.

Yang lucu adalah pandangan Jason. Jason tersenyum kagum saat Pil Sook menyanyi dan langsung cemberut begitu Sam Dong menyanyi.

Oh Hyuk dan Jin Kuk tersenyum memandang Sam Dong. Mulut Jin Man menganga lebar.

 

 

“Aku tidak menyangka kau bisa.” kata Kyung Jin begitu Sam Dong dan Pil Sook selesai menyanyi. “Mulanya kupikir kau hanya omong besar. Tapi kau bernyanyi sangat baik. Semuanya sempurna. Kim Pil Sook… Song Sam Dong.. A+.”

Sam Dong dan Pil Sook ber-high five.

 

 

Sam Dong langsung berlari menghampiri Jin Kuk.

“Kau dengar? Aku mendapat A+.” kata Sam Dong senang.

“Aku tahu.” jawab Jin Kuk. “Berhenti pamer.”

“Aku tidak akan menunggu lama.” kata Sam Dong. “Lebih baik kau cepat-cepat bersemangat lagi. Mengerti?”

Sam Dong berjalan menuju kelas lagi, namun sebelumnya ia melemparkan sesuatu pada Jin Kuk. “Aku sudah tidak memerlukannya lagi.” katanya. “Sekarang itu milikmu.”

Sam Dong memberikan medali pada Jin Kuk.

 

 

Ketika sedang memasukkan barang-barang ke loker, Hye Mi melihat Baek Hee menjatuhkan barang-barangnya sendiri. Entah ia gugup atau tidak fokus. Baek Hee terlihat sangat frustasi.

Tanpa sadar kalau Hye Mi sedang memperhatikannya, Baek Hee berjalan gontai naik ke tangga. Hye Mi mengikutinya.

 

 

Baek Hee menuju ke atap gedung sekolah dan berdiri di sisi pagar pembatas.

Perlahan, ia melepaskan sepatu dan menginjakkan kakinya ke pagar, hendak bunuh diri.

“Yoon Baek Hee!” panggil Hye Mi. Ia mendekati Baek Hee dan membantu mengikat kembali tali sepatu Baek Hee. “Kenapa kau terlihat ketakutan dan gugup?”

 

 

Baek Hee menangis. “Hye Mi…”

“Yoon Baek Hee, apa yang terjadi padamu?” tanya Hye Mi cemas.

Baek Hee memeluk Hye Mi. “Apa yang harus kulakukan?” tangisnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Hye Mi. “Katakan padaku.”

“Semuanya karena aku.” tangis Baek Hee. “Akulah yang menyebabkan Jin Kuk menjadi seperti ini. Jin Kuk memukul Direktur Yoon untuk menyelamatkan aku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s