Cerita Islami

Jika Curhat Jadi Ajang Maksiat

Saat tersandung masalah yang membuat hati menjadi kalut dan kepala serada mau meledak, apa yang biasanya anda lakukan?. Berbeda-beda tentu saja. Banyak kepala banyak cara. Mungkin menangis, merenung di kamar, menulis semua uneg-uneg dalam buku diary, pergi ke puncak bukit dan berteriak keras, refreshing dengan jalan-jalan di gunung, menyetel musik favorit di kamar, menenangkan diri di masjid atau lainnya.

Selain itu, ada satu hal yang jamak dilakukan yaitu curhat aliat curahan persaan, sharing atau berbagi dengan orang lain. Orang bilang, dengan curhat hati bisa lebih tenang. Setelah dicurahkan dan ditumpahkan, seakan ada bongkahan ganjalan yang hilang meski kadang teman curhat tidak semata-mata ditujukan mencari penyelesaian, tapi lebih sering hanya untuk mencari support (dukungan) dan kepedulian. Dukungan dan kepedulian inilah yang menimbulkan efek psikis berupa rasa lega dan nyaman.

Dari kacamata syar’i, tidak ada masalah dalam hal ini. Sebab secara kodrati manusia memaang makhluk yang memiliki ketergantungan satu sam lain. Tolong menolong, apapun bentuknya asal dalam kebaikan adalah selaras dengan perintah Allah. Hanya saja, realitas sering menyajikan suguhan tak sedap seputar maksiat yang ternyata bermula dari sekedar curhat. Rupanya, setan telah mengidentifikasi hal ini dan menemukan celah yang bisa dimasuki untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

Akibat salah orang

Saat mencoba menumpahkan isi hati, hakikatnya seseorang juga tengah membuka sebahagian pribadinya,sekecil apapun. Karena dari situ bisa diketahui cara pandang,sikap dan watak seseorang, khususnya dari masalah yang dihadapi. Ada kalanya masalah yang dihadapi menyangkut harga diri, aib, dan rahasia pribadi maupun orang lain. Maka, sebelum anda memutuskan untuk ‘berbagi’ masalah dan beban pikian denagn orang lain, pertimbangkan baik-baik siapa yang selayaknya bisa kita jadikan partner curhat.
Salah memilih orang akan buruk akibatnya. Alih-alih mendapat dukungan,kepedulian apalagi solusi, rahasia kita justru dibocorkan kemana-mana. Karena ternyata, teman curhat tersebut bukanlah orang yang amanat dalam menjaga hal-hal yang kita anggapprivasi dan rahasia. Akibatnya kemudian, ada kerenggangan dan ketidak kenakan dalam hubungan. Lebih dri itu, setan bisa dengan mudah menyulut api permusuhan.

Lain itu, teman yang kurang baik juga sering tak mampu mengerem saat curhat mulai berubah warna menjadi ajang ghibah, membicarakan keburukan orang lain terang-terangan. Obrolan justru semakin hangat dan klop karena terbumbui gossip. Parahnya lagi jika ternyata teman kita itu juga bernasib sama dengan kita karena mungkin pernah disakiti oleh si fulan yang dibicarakan. Meski sudah diembel-embel kalimat “ ya bukannya mau membicarakan aib orang lain, tapi …”, tapi ghibah tetap saja dilarang. Memang, ghibah dalam rangka ishlah (perbaikan) dan menjauhi keburukan akhlak seseorang diperbolehkan dalam kadar tertentu. Akan tetapi banyak yang sering meremehkan batasan-batasannya.

Haruskah dengan lawan jenis?

Secara psikologis, curhat dengan lawan jenis memang memiliki beberapa kelaebihan. Curhat dengan wanita dirasa lebih menyenangkan bagi laki-laki karena umumnya wanita lebih transparan dalam mengekspresikan emosi. Kesannya menjadi lebih antusias dan peduli. Wanita juga bisa menjadi pendengar yang baik dan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang sifatnya sentimental. Sedag bagi wanita,curhat bisa menemukan jalan keluar dan dukungan. Pertimbangan-pertimbangan rasional laki-laki adalah sesuatu yang agak suloit diperoleh dari diri sendiri atau sesame wanita. Karenanyalah, tak sedikit yang lebih memilih teman curhat dari lawan jenis.

Namun demikian, seseorang mukmin yang baik tentu tidak akan ceroboh dalam melangkah. Aturan syar’i menjadi pertimbangan awal dalam setiap langkahnya. Memilih partner curhat dari lawan jenis dan bukan mahram sangatlah berbahaya. Sebab, inilah salah satu perangkap setan. Bberapa libi pun dibisikkan; curhat dengan lawan jenis, hanaya dialah orang yang terdekat, paling mengerti, dan lain sebagainya. Lebih jauh, sudah disiapkan perangkap menyesatkan yang akan menjebak manusia pada perbuatan haram.

Mula-mula mungkin hanya ngobrol biasa, sharing hal-hal ringan atau bahkan konsultasi agama. Tapi dengan cerdiknya,setan bisa merubah semua itu menjadi interaksi yang diharamkan. Mungkin pacaran,selingkuh, hingga yang paling parah yaitu zina. Karena mungkin merasa cocok, enak diajak bicara, sikap yang terkesan sangat care (peduli) hingga akhirnya timbullah simpati. Ditambah lagi, frekuensi pertemuan yang cukup sering karena mungkin teman sekantor, satu sekolah dan lainnya akan semakin menyuburkan rasa yang ada. Dan jika tak segera mawas diri,bukan mustahil hubungan akan semakin mengarah pada apa yang ditargetkan setan. Atau mungkin, niat awalnya memang kurang baik. Curhat hanyalah topeng untuk menunjukkan siapa dirinya, menarik simpati, dan mengekspresikan rasa suka pada teman curhat atau bahakan pada ustadz. Jika begini, jalan setan akan semakin lempeng.

Sebisa mungkin, hendaknya kita tutup jalan setan yang pasti akan membahayakan dan berakibat pada kebinasaan. Begitulah, salah satu trik setan adalah dengan tazyinul ma’ashi, menghiasi maksiat agar terkesan indah dan baik. Berbagi dengan kawan untuk menyelesaikan persoalan bisa menjadi suatu kebutuhan. Namun, hendaknya tetap berhati-hatian agar janagan sampai salah orang atau terracuni bisikkan setan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s